Wednesday, June 27, 2012

Penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep (Concept Maps) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tentang Konsep Benda Cair Di Kelas IV

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari tentang alam semesta dengan segala isinya. IPA sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, setiap saat kita sering menemukan peristiwa-peristiwa alam yang kemudian menimbulkan rasa ingin tahu. Oleh karena itu, IPA merupakan mata pelajaran yang penting untuk dipelajari.
Mata pelajaran IPA adalah salah satu mata pelajaran utama di Sekolah Dasar. IPA sangat penting dipelajari oleh siswa karena IPA memberikan pemahaman kepada siswa tentang fenomena alam yang menjadi tempat tinggalnya. James Conant (Samatowa, 2006: 1) mendefinisikan sains sebagai suatu deretan konsep skema konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut. Sedangkan Abruscato (Asy’ari, 2006: 7) mengartikan sains sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat serangkaian proses yang sistematik guna mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta. Sejalan dengan Abruscato, Powler (Samatowa, 2006: 2) mengemukakan bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil observasi dan eksperimen.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta beserta isinya, yang diperoleh manusia melalui serangkaian proses sistematik melalui hasil eksperimen (percobaan) dan observasi (pengamatan).

IPA merupakan ilmu eksakta yang menuntut pembuktian lewat percobaan dan pengamatan. Belajar IPA bagi siswa tidak cukup hanya dengan duduk, mendengarkan, mencatat, menghapal lalu mengerjakan soal-soal untuk mendapatkan nilai bagus, melainkan memerlukan sebuah aktivitas untuk memperoleh informasi dalam rangka pemahaman sebuah konsep IPA. Aktivitas tersebut adalah aktivitas yang diarahkan untuk membandingkan hasil prediksi siswa dengan teori melalui percobaan dan pengamatan dengan menggunakan metode ilmiah untuk mengembangkan kompetensi siswa agar mampu memahami konsep IPA melalui proses mencari tahu. Hal ini akan membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai konsep IPA tersebut.
Keterampilan dalam proses mencari tahu pada saat pembelajaran IPA berlangsung dinamakan dengan keterampilan proses IPA.
Untuk mengetahui bagaimana keterampilan proses IPA berlangsung, maka guru harus memperhatikan mengenai keterampilan proses IPA tersebut. Keterampilan proses IPA yang dapat diterapkan untuk siswa Sekolah Dasar diantaranya adalah pengamatan (observasi), pengelompokkan (klasifikasi), pengukuran, hubungan ruang atau waktu, meramalkan (memprediksi), mengkomunikasikan, serta menarik kesimpulan (Sujana, 2009: 92).
Melalui keterampilan proses juga dapat dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.
Berdasarkan pernyataan di atas, pembelajaran IPA di Sekolah Dasar harus mampu melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan menghubungkan konsep IPA yang telah mereka miliki dengan konsep IPA baru yang akan mereka pelajari serta bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya Samatowa (2006: 1) mengatakan bahwa.
Khusus IPA untuk SD hendaknya membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara ilmiah. Hal ini akan membantu mereka mengembangkan kemampuan bertanya dan mencari jawaban atas fenomena alam berdasarkan bukti serta mengembangkan cara berfikir sainstifik (ilmiah). Fokus program pembelajaran IPA di SD hendaknya ditujukan untuk memupuk minat dan pengembangan anak terhadap dunia mereka dimana mereka hidup.
Jika melihat kondisi nyata di lapangan, sering terjadi kekeliruan seorang guru dalam mengajarkan IPA, sehingga siswa sulit memahami pelajaran tersebut. Pembelajaran IPA bagi sebagian guru cenderung diajarkan secara konseptual saja, bersifat hafalan dan kurang mementingkan proses pemahaman dan pembinaan konsep. Mereka mengajarkan IPA dengan proses transfer informasi dari buku teks, mereka melihat IPA hanya dari satu sisi, yaitu IPA sebagai produk yang memuat kumpulan–kumpulan informasi hasil olahan para ahli yang sudah tersusun secara lengkap dan sistematis pada buku teks, padahal IPA mempunyai suatu sisi lain yaitu IPA sebagai proses sehingga dalam pembelajarannya membutuhkan penelitian dan eksperimen untuk pembuktian.
Aspek pokok tujuan pembelajaran IPA adalah agar siswa menyadari keterbatasan pengetahuan mereka, memiliki rasa ingin tahu untuk menggali berbagai pengetahuan baru dan akhirnya mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Setiap guru harus memahami alasan IPA perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Ada beberapa alasan IPA dimasukkan ke dalam kurikulum, yaitu IPA berfaedah bagi suatu bangsa, melatih berpikir kritis, tidak bersifat hapalan belaka dan dapat membentuk kepribadian anak secara menyeluruh.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 mata pelajaran IPA kelas IV terdapat kompetensi dasar yang menunjukan bahwa siswa kelas IV harus mampu mengidentifikasi wujud benda padat, cair, dan gas memiliki sifat tertentu. Materi ini sangat penting bagi siswa karena dalam kehidupan mereka sehari-hari selalu berhubungan dengan benda padat, cair dan gas. Khususnya lagi dengan benda cair misalnya air, karena setiap hari siswa memanfaatkan air untuk minum, mandi, mencuci, dll. Saat memanfaatkan air itu, siswa secara tidak langsung melihat sifat-sifat air, misalnya air yang dituangkan dari teko ke dalam gelas bentuknya akan akan berubah menjadi seperti gelas, air hujan yang mengalir dari talang ke selokan karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, dan sebagainya.
Berdasarkan hasil pembelajaran yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 7 November 2009 saat pembelajaran IPA tentang konsep benda cair di kelas IV SDN Lembursitu Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang, kinerja pembelajaran yang dilakukan dan aktivitas siswa serta hasil belajar siswa tidak optimal. Di awal pembelajaran, apersepsi yang dilakukan kurang mendalam atau kurang dikaitkan dengan konsep-konsep benda cair yang relevan dengan yang sudah ada dalam struktur kognitif (otak) siswa. Padahal sebelumnya siswa sudah mempelajari materi berbagai wujud benda (benda padat, benda cair, dan benda gas) pada pelajaran IPA di kelas III. Walaupun dalam materi tersebut, hanya membahas dengan sekilas mengenai benda cair.
Saat masuk dalam kegiatan inti, di dalam penyampaian materi pelajaran hanya dijelaskan dengan sekilas tanpa diberikan catatan-catatan penting kepada siswa mengenai materi yang sedang dipelajari. Padahal semua siswa di kelas IV tidak mempunyai buku paket, sehingga siswa merasa kesulitan untuk menghapalkan ulang materi yang telah mereka pelajari, apalagi untuk memahami materi pelajaran tersebut karena materi pelajaran hanya dijelaskan sekilas saja. Walaupun materi tentang benda cair ada di dalam buku paket yang disediakan oleh sekolah, tetapi siswa merasa malas untuk mencatatnya karena materi pelajarannya terlalu banyak dan siswa masih belum tahu cara mencatat materi pelajaran itu agar lebih ringkas dan mudah dipahami. Cara tersebut dilakukan karena materi pelajaran tersebut sudah ada dalam buku paket. Padahal buku paket itu bukan milik pribadi siswa. Jadi, cara lain yang digunakan adalah setelah materi pelajaran dijelaskan, siswa disuruh mencatat materi pelajaran yang terdapat dalam buku paket. Hal inilah yang membuat siswa suka mengeluh dan merasa lelah untuk mendengarkan kembali penjelasan materi dan mengerjakan tugas atau soal evaluasi karena sebelumnya mereka telah mencatat materi pelajaran yang banyak.
Selain itu, pembuktian mengenai sifat-sifat benda cair hanya didemonstrasikan sebagian dengan alasan keterbatasan alat peraga, sehingga siswa menjadi pasif dengan hanya melihat percobaan tersebut tanpa ikut terlibat di dalamnya serta kegiatan pembelajaran yang lebih didominasi oleh guru. Akibatnya ada beberapa orang siswa yang tidak memperhatikan karena untuk melihat percobaan yang sedang dilakukan, mereka berbondong-bondong maju ke depan kelas untuk melihat percobaan itu lebih dekat sehingga mereka berdesak-desakan dengan siswa yang lain dan pada akhirnya kondisi ini membuat suasana kelas menjadi ribut.
Aktivitas siswa dalam pembelajaran juga tidak optimal karena dari awal sampai akhir kegiatan pembelajaran siswa hanya mendengarkan, melihat percobaan yang didemonstrasikan, mencatat materi pelajaran dari buku paket, dan mengerjakan tugas serta menjawab soal evaluasi. Jadi pantas saja apabila siswa kurang termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Hal ini terlihat dari kurangnya rasa antusias siswa untuk belajar, kebanyakan siswa merasa kurang tertarik mengikuti pelajaran sehingga mereka tidak memperhatikan penjelasan materi dan lebih memilih mengobrol dengan teman sebangkunya. Hanya siswa yang duduk di bangku deretan depan saja yang terlihat antusias mendengarkan penjelasan materi.
Siswa juga kurang aktif dalam pada saat pembelajaran berlangsung, hal ini terlihat saat diajukan pertanyaan mengenai contoh-contoh benda cair yang biasa terdapat dalam kehidupan sehari-hari, hanya dua orang siswa yang berani untuk menjawab pertanyaan sedangkan yang lainnya hanya diam. Setelah materi pelajaran selesai dijelaskan dan percobaan telah didemonstrasikan, setiap siswa bersama teman sebangkunya ditugaskan untuk membuat tabel yang berisi contoh-contoh benda cair yang terdapat di dalam kehidupan sehari beserta manfaatnya.
Pada saat mereka mengerjakan tugas tersebut, ada beberapa siswa yang tidak membantu teman sebangkunya dalam mengerjakan tugas, tetapi mereka malah mengganggu temannya yang lain. Mereka kurang mempunyai tanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan dan kurangnya kerjasama dengan teman sebangku. Pada akhir pembelajaran setiap siswa diberikan soal tentang konsep benda cair dan ternyata hasil evaluasi siswa kebanyakan masih di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) IPA di SDN Lembursitu pada indikator menunjukan sifat-sifat benda cair dan membandingkan benda cair yang satu dengan benda cair yang lainnya, yaitu 66. Setelah dilihat dari lembar jawaban siswa, ternyata masih ada beberapa orang siswa yang tidak bisa membedakan sifat benda cair dengan contoh benda cair. Sehingga pada saat menjawab pertanyaan yang meminta untuk menjelaskan sifat-sifat benda cair, mereka malah menjawab soal tersebut dengan menuliskan contoh-contoh benda cair.
Dari daftar nilai siswa kelas IV SDN Lembursitu pada materi benda cair, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan nilai siswa sangat rendah dan dari 35 orang siswa ada 22 orang siswa yang memperoleh nilai di bawah KKM. Dari gambaran pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran IPA tentang konsep benda cair di kelas IV SDN Lembursitu kurang berhasil, baik dari segi proses maupun hasil belajar siswa. Berdasarkan pemikiran itulah, dirasakan perlu untuk diadakannya penelitian tentang penerapan model pembelajaran peta konsep (concept maps) dalam rangka memperbaiki proses dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dituangkan dalam bentuk penelitian tindakan kelas dengan judul ”Penerapan Model Pembelajaran Peta Konsep (Concept Maps) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa tentang Konsep Benda Cair di Kelas IV SDN Lembursitu Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang”.

No comments:

Post a Comment